YLKI Kritisi Kebijakan Pemerintah Jual Premium di Jamali

YLKI Kritisi Kebijakan Pemerintah Jual Premium di Jamali


Jakarta, HanTer - Keinginan Pemerintah untuk kembali menugaskan BUMN Pertamina menyediakan dan menjual bahan bakar minyak (BBM) jenis Premium di wilayah Jawa Madura dan Bali (Jamali) menimbulkan tanda tanya dari sejumlah kalangan. Soalnya, sebelumnya pemerintah begitu antusias berkampanye agar masyarakat meninggalkan BBM yang kurang berkualitas tersebut dan menggunakan BBM yang lebih baik kualitasnya.
 
“Kebijakan pemerintah ini kaya kutipan syair sebuah lagu dangdut jaman dulu `engkau yang mengawali, engkau pula yang mengakhiri…,” kata Ketua Harian YLKI, Tulus Abadi kepada wartawan di Jakarta, Selasa (12/6).
 
Tulus mengatakan, untuk mewujudkan kebijakan tersebut, pemerintah melakukan dua terobosan salah satunya menciptakan BBM “jalan tengah”, yakni sebuah produk BBM yang kualitasnya relatif lebih baik dan harganya pun relatif terjangkau bernama Pertalite dengan RON 90.
 
“Guna menyokong langkah pertama, pemerintah mengeluarkan jurus kedua, yakni, mengurangi pasokan/penjualan bensin Premium, di wilayah Jamali. Artinya konsumsi Premium dibatasi dan dikendalikan,” ujarnya.
 
“Bahkan saat itu ada wacana Premium akan dilarang di Jakarta, karena DKI hanya boleh menggunakan BBM dengan kadar RON 92 ke atas, Pertamax dll. Jadi Premium hanya dialokasikan untuk luar Pulau Jawa, Bali dan Madura,” tambahnya.
 
Sebagai gambaran, bensin Premium kualitasnya paling rendah (RON 88), kemudian disusul Pertalite (RON 90), dan Pertamax dengan RON 92. Ketiga jenis BBM inilah yang paling banyak dipakai konsumen. Ada juga Pertamax Turbo, dengan RON 95. Kadar RON masing-masing jenis BBM mencerminkan kualitasnya. Semakin tinggi kadar RON (Registered Octane Number)-nya, makin baik/tinggi pula kualitasnya.
 
Tulus mengatakan, dua jurus tersebut sepertinya lumayan ampuh  mendorong perubahan perilaku masyarakat untuk beralih ke BBM yang kualitasnya lebih baik. Terbukti, konsumsi Pertalite naik tajam, bahkan Pertamax pun tak mau ketinggalan.
 
“Data Pertamina membuktikan, bahwa konsumsi pertalite secara nasional mencapai lebih dari 53 persen; sedangkan konsumsi premium hanya 23 persen saja,” tukasnya.
 
Dan hebatnya, lanjut dia, tak ada gejolak untuk  mendorong perubahan kebijakan tersebut, karena masyarakat tampak happy menggunakan Pertalite. “Bahkan sepeda motor pun lebih antusias menggunakan Pertamax. Terbukti konsumsi produk tersebut di kalangan pemotor lebih tinggi presentasenya daripada  kalangan pengguna mobil,” kata Tulus.
 
Menurut dia, setidaknya ada tiga alasan mengapa masyarakat ikhlas bermigrasi  ke produk BBM yang lebih baik kualitasnya. Pertama, karena keberhasilan pemerintah daloam hal ini Kementerian ESDM dan Pertamina dalam melakukan public campaign (kampanye publik).
 
“Sinergi komunikasi antara Kementerian ESDM—sebagai regulator, dan Pertamina sebagai operator, cukup sukses. Dan hal ini logis saja, karena jika kebijakan ini berhasil maka kedua belah pihak diuntungkan,” tukasnya.
 
Lebih jauh ia mengatakan, bahwa menurunnya konsumsi premium akan menekan besaran subsidi pemerintah di sektor energi. “Karena pemerintah tak perlu pusing dengan postur finansial di APBN, karena alokasi subsidi BBM-nya tidak bengkak. Sebaliknya, bagi Pertamina, naiknya konsumsi Pertalite dan Pertamax akan mengerek margin profitnya. Sebuah simbiose mutualisme yang sangat elegan,” paparnya.
 
Selain itu, lanjut dia, lewat public campaign tersebut, kesadaran masyarakat terbangun bahwa kualitas BBM sangat berpengaruh terhadap kinerja mesin kendaraan. Tarikan mesin lebih joss, dan kondisi mesin pun lebih sehat. Sehingga industri otomotif pun mengendors kebijakan ini.
 
“Hal lain lagi adalah selisih harga yang tidak signifikan antara Premium dengan Pertalite, bahkan Pertamax. Kondisi ini juga mencerminkan adanya afordabilitas (daya beli), bahwa masyarakat ternyata mampu membeli BBM lebih mahal. Tidak aneh, proses migrasi ini sering diklaim sebagai upaya pemerintah menaikkan harga BBM secara diam-diam,” tukasnya.
 
Ironisnya, kata Tulus, fenomena yang positif ini secara perlahan berjalan anti klimaks. Karena kebijakan pemerintah terhadap BBM stagnan, bahkan inkonsisten. “Salah satu contoh adalah soal harga BBM, di mana pemerintah mengusung jargon bahwa harga BBM  berbasis pasar: menyesuaikan harga minyak mentah, kurs rupiah dan inflasi. Namun jargon itu hanya berjalan 1,5 sampai dua tahun saja. Setelah itu mandeg, bahkan sudah didiklair sampai 2019,” sesalnya.
 
Menteri ESDM, Ignatius Jonan, bahkan tampak mulai limbung, dengan mengizinkan SPBU swasta menjual produk BBM serupa Premium, dengan alasan harganya lebih murah dari Premium, “Jonan menyimpulkan bahwa Pertamina tidak efisien. Hanya dengan satu buah SPBU saja, dia jadikan sebagai tolok ukur efisien atau tidak, dibanding 3.000 lebih SPBU milik Pertamina. Kesimpulan yang absurd dan menggelikan,” ketusnya.
 
Dan anti klimaks yang paling ironis adalah, mulai momen mudik Lebaran ini, pemerintah mewajibkan   SPBU di Pulau Jawa, Bali dan Madura;  menjual kembali bensin Premium.
 
“Sangat disayangkan dan   ironis, jika pemerintah justru mundur beberapa langkah dalam kebijakan BBM.  Kebijakan yang sudah on the track malah ditekuk sedemikian rupa, demi kepentingan jangka pendek,” sesalnya.
 
Ia mengakui bahwa harga BBM akan berpengaruh terhadap daya beli dan inflasi. Tetapi sejatinya, merujuk pada data BPS, yang paling signifikan berpengaruh terhadap daya beli masyarakat adalah melambungnya harga bahan pangan. “Patut diduga, langkah mundur pemerintah dalam kebijakan BBM hanyalah bentuk pengalihan atas ketidakmampuannya dalam mengendalikan lonjakan harga bahan pangan,” ketusnya.
 
Ia berharap, konsumen terutama para pemudik Lebaran tetap konsisten mengonsumsi bahan bakar yang berkualitas baik.  Hal itu untuk menjaga agar kerusakan lingkungan tidak lebih parah, demi kesehatan masyarakat, demi kesehatan mesin kendaraan dan demi keadilan sosial yang lebih luas.
 
“Biarkan konsumsi premium prioritas untuk konsumen yang lebih membutuhkan, yakni konsumen di luar area Jamali, khususnya daerah terluar, tertinggal dan terdepan Indonesia,” pungkasnya.
 

(Akbar)

Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com

Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com