Terpuruknya Rupiah Terhadap Dollar, SMI Harus Bertanggung Jawab

Terpuruknya Rupiah Terhadap Dollar, SMI Harus Bertanggung Jawab


Nilai tukar rupiah kian terpuruk. Bahkan, nilai mata uang rupiah menyentuh level terlemah sepanjang tahun ini. Kinerja Sri Mulyani Indarwati sebagai Menteri Keuangan disebut-sebut sebagai pihak yang paling bertanggung jawab akibat semakin terpuruknya nilai rupiah terhadap dolar.
 
Adapun kurs rupiah di pasar spot  melemah 1,52% ke level Rp14.394 per dollar Amerika Serikat (AS), pada perdagangan tercatat sejak Kamis (28/6/2018) sore.
 
Peneliti dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira Adhinegara memperkirakan nilai tukar rupiah bisa terdepresiasi terhadap dolar.
 
"Rupiah diprediksi akan terus melemah. Titik terendah pelemahan rupiah bisa mencapai Rp15.000 per dolar tahun ini," ujar Bhima di Jakarta, Jumat (29/6/2018).
 
Melemahnya nilai tukar rupiah, menurut Bhima, tentu berdampak terhadap berbagai hal. Pertama, kata dia, aliran modal asing yang keluar dapat semakin tinggi. Saat ini, mencapai Rp8,6 triliun (year to date/ytd) sejak awal 2018.
 
"Itu dampak dari yield treasury atau surat utang pemerintah AS tenor 10 tahun loncat ke 2,9 persen tertinggi dalam 4 tahun terakhir. Otomatis yield spread dengan SBN (Surat Berharga Negara) Indonesia makin sempit. Investor akhirnya mencatat penjualan bersih dan memburu surat utang AS," ungkapnya.
 
Kedua, daya saing produk Indonesia baik domestik maupun ekspor, menjadi melemah. Lantaran, beberapa sektor industri bergantung oleh impor bahan baku dan barang modal.
 
"Kalau dolarnya mahal, biaya produksi pasti naik ujungnya harga barang jadi lebih mahal. Sementara konsumsi domestiknya masih stagnan, maka pengaruh ke profit ke pengusaha juga dapat semakin rendah," terangnya.
 
Risiko berikutnya adalah beban pembayaran cicilan dan bunga utang luar negeri pemerintah maupun korporasi makin besar. Risiko gagal bayar apalagi utang swasta yang belum dilindung nilai (hedging) akan naik.
 
Terakhir, Indonesia sebagai negara net importir minyak mentah sangat sensitif terhadap pergerakan dolar. Tercatat impor minyak Indonesia sebanyak 350-500 ribu barel per hari, karena produksi dalam negeri tak mencukupi konsumsi BBM.
 
"Jika dolar menguat terhadap rupiah, harga BBM akan tertekan baik yang subsidi maupun non-subsidi. Efeknya penyesuaian harga BBM berbagai jenis diprediksi akan terus dilakukan," ucap Bhima.
 
Analis Monex Investindo Faisyal, mengungkapkan, pelemahan rupiah hari ini dipicu oleh kembali menguatnya dollar AS. "Hampir seluruh mata uang utama maupun emerging market melemah terhadap dollar," katanya di Jakarta,
 
Selain itu, pelemahan rupiah juga terjadi seiring dengan naiknya yield surat utang negara (SUN). Hari ini yield SUN acuan bertenor 10 tahun berada di level 7,86% atau naik 1,69%. Hal ini membuat investor asing memilih menarik dana dari pasar domestik.
 
Adapun, kemungkinan Bank Indonesia (BI) mengerek suku bunga acuan untuk ketiga kalinya pada Rapat Dewan Gubernur yang tengah berjalan, dianggap Faisyal, tidak akan banyak memberi dampak.
 
"Pasalnya, pascasuku bunga naik dua kali, rupiah masih belum stabil juga," tuturnya.
 
Faisyal menilai, rupiah terus melemah lantaran tertekan data perdagangan Indonesia bulan Mei yang dirilis dengan angka impor cukup tinggi. "Impor naik lebih banyak daripada ekspor dan neraca perdagangan masih defisit," katanya.
 
Investor juga mulai menjaga jarak dengan pasar dalam negeri seiring dengan perhelatan tahun politik yang semakin dekat. Pemilihan kepala-kepala daerah hingga pemilihan presiden selanjutnya membuat investor melihat ada potensi ketidakpastian di pasar Indonesia dalam waktu dekat.
 
Hingga akhir tahun ini, Faisyal melihat, rupiah berpotensi terus melemah hingga berada di rentang Rp14.500 - Rp15.000 per dollar AS. Alasannya, The Fed kemungkinan besar masih akan menaikkan suku bunganya dua kali lagi. Selain itu, Agustus nanti calon presiden sudah mulai ditetapkan sehingga ketidakpastian ekonomi mulai muncul.
 
Makin Terpuruk
 
Direktur Center for Budget Analysis (CBA) Uchok Sky Khadafi mengatakan, Sri Mulyani Indarwati sebagai Menteri Keuangan merupakan pihak yang paling bertanggung jawab dengan semakin terpuruknya nilai rupiah terhadap dolar. 
 
Selain itu menurutnya, kenaikan nilai tukar rupiah terhadap dolar tentu akan berpengaruh dengan jumlah hutang yang semakin membengkak.
 
"Dengan melemahnya rupiah maka harusnya Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan paling terbaik se-dunia mengantisipasi hal ini. Bukan malah menyatakan bahwa pondasi ekonomi Indonesia makin kuat," ujar Uchok di Jakarta, Jumat (29/6/2018).
 
Uchok menegaskan, melemahnya rupiah menyebabkan harga-harga kebutuhan pokok akan naik. Akibatnya, harga kebutuhan pokok bisa semakin tinggi sehingga akan mencekik pendapatan rakyat.
 
Sedangkan dampak panjangnya, dengan anjloknya nilai rupiah akan membuat banyak bank yang akan colapse. "Pelemahan rupiah ini tanggung jawab BI dan Sri Mulyani juga harus ikut bertanggung jawab," paparnya.
 
Uchok menyarankan, jika nilai rupiah terus melemah maka lebih baik Sri Mulyani mengundurkan diri saja karena tidak cocok untuk menjadi Menteri Keuangan Indonesia. Sri Mulyani yang terkesan diam saja atas merosotnya nilai rupiah maka cocoknya bekerja di bank dunia atau di IMF.
 
Terlebih, Sri Mulyani tidak punya solusi untuk membuat nilai tukar rupiah kembali stabil. Sehingga bisa membuat harga - harga kebutuhan pokok tidak naik.
 
"Kalau dia (Sri Mulyani) punya solusi maka bukan hanya menyakinkan publik saja, tapi juga harus punya resep atau obat untuk menyembuhkan penyangkit pelemahan rupiah," jelasnya.
 
Uchok menilai, selama Menteri Keuangan dijabat Sri Mulyani maka akan membuat nilai tukar rupiah semakin terpuruk. Sehingga akan membuat perekonomian Indonesia semakin kacau. Apalagi saat ini Sri Mulyani hanya menjadi kebanggan pihak asing.  
 
Cari Solusi
 
Wakil Ketua DPR Fadli Zon meminta Menteri Keuangan Sri Mulyani untuk berpikir mencari solusi. 
 
"Suruh mereka (pemerintah) mikir lah, kan (Sri Mulyani) menteri terbaik itu seluruh dunia. Bagaimana ini memikirkan rupiah melemah," kata Fadli di Jakarta, Jumat (29/6/2018).
 
Fadli mengaku mendengar kabar kalau Bank Indonesia telah melakukan intervensi terkait melemahnya nilai tukar rupiah itu. Namun, belum ada perubahan signifikan. Fadli meminta pemerintah benar-benar memikirkan hal itu. 
 
"Ini harus diatasi pemerintah karena membahayakan ekonomi. (Pelemahan rupiah) Meningkatkan utang dan pembayaran lain (dalam) US$," ucapnya. 
 
Wakil Ketua DPR RI Taufik Kurniawan menilai, pelemahan nilai tukar rupiah ini tak bisa terus menyalahkan kondisi eksternal. Kendati kondisi global cukup mempengaruhi nilai tukar rupiah, namun Taufik menilai jika fundamental ekonomi diperkuat, ia yakin rupiah akan bertahan melawan ‘keperkasaan’ dolar AS. Sejumlah mata uang negara lain yang juga melemah, tak bisa dijadikan alasan Indonesia harus bernasib sama.
 
“Kondisi global memang memberikan pengaruh pada ekonomi kita, khususnya nilai tukar rupiah. Tapi bukan berarti rupiah tak bisa melawan dolar AS. Fundamental ekonomi kita harus diperkuat, agar mampu menahan kuatnya dolar AS. Dengan penguatan fundamental ekonomi, dan berbagai kebijakan, saya rasa rupiah bisa kembali menguat,” kata Taufik di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (29/6/2018).  

(Harian Terbit/Sammy)

Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com

Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com