Komisi V: KM Lestari Maju Tenggelam, Pemerintah Harus Tanggung Jawab

Komisi V: KM Lestari Maju Tenggelam, Pemerintah Harus Tanggung Jawab


Jakarta, HanTer - Ketua Komisi V DPR RI Fary Djemy Francis mengaku sedih dan mengatakan duka kembali menyelimuti anak negeri ini.
 
"Tanggal 3 Juli 2017 pukul 14.30 Wita, Kapal Motor (KM) Lestari Maju tenggelam di perairan Selayar Sulawesi Selatan. Kapal ini mengangkut 139 penumpang dan 48 kendaraan. Jumlah korban meninggal sudah mencapai 25 orang. Kecelakaan demi kecelakaan pelayaran terus terjadi dan sepertinya pihak-pihak yang bertanggung jawab baik pemerintah maupun pengelola menjadi tak berdaya," paparnya, Rabu (4/7/2018).
 
Fary menjelaskan, pekan lalu, kejadian tragis baru saja terjadi di danau Toba ketika KM Sinar Bangun tenggelam dan menewaskan beberapa penumpangnya.
 
"Apa yang salah dengan sistem pelayaran kita? Mengapa kecelakaan demi kecelakaan terus terjadi? Apakah pemerintah selaku regulator dan operator tidak bekerja serius," kritiknya.
 
Lanjut Fary, ada beberapa catatan terkait kejadian ini:
 
1. Kejadian yang berulang dengan lokus berbeda ini mengindikasikan bahwa pemerintah tidak belajar dari pengalaman-pengalaman sebelumnya. Mestinya evaluasi atas setiap kejadian berujung pada perbaikan kinerja bukan malah berulangnya kejadian serupa.
 
2. Minimnya pengawasan menyebabkan kecelakaan sering terjadi. Pengawasan ini baik personal (petugas-petugas di pelabuhan, operator kapal, kru, ABK) maupun pengawasan administratif seperti manifes kapal, surat-surat jalan. Juga harus ada pengawasan terhadap peralatan dan kalaikan kapal.
 
Jadi aneh KM Lestari Maju diduga lambungnya bocor dan beberapa jam sebelumnya ditambal, malah masih bisa beroperasi. Minimnya pengawasan menyebabkan tidak berjalannya SOP pelayaran secara maksimal. Akibatnya pasti kecelakaan. Sudah saatnya regulator dan operator lakukan evaluasi menyeluruh. Nyawa manusia jangan dijadikan taruhan hanya karena kelalaian regulator pun operator.
 
3. Setiap kecelakaan selalu dikaitkan dengan quick response dari Basarnas. Protapnya jelas, 7 hari pasca kejadian, upaya SAR sudah harus selesai. Bagaimana dengan konteks saat ini? Kita tidak bisa menuntut Basarnas untuk melakukan quick response jika mereka tidak disediakan peralatan yang memadai. Anggaran Basarnas setiap tahun terus berkurang. Di satu sisi kita mau mereka optimal melakukan upaya pencarian dan penyelamatan. Bagaimana itu bisa terjadi jika anggarannya minim dan peralatannya tidak memadai?
 
Ini yang terus kami suarakan ke pemerintah. Berilah anggaran yang maksimal agar Basarnas bekerja optimal, yang terjadi anggaran Basarnar terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun.
 
4. Semoga dari kejadian-kejadian ini kita belajar untuk mengantisipasi agar peristiwa serupa tidak terjadi lagi dan belajar merespons kejadian secara tepat dan cepat. Keledai saja tidak terantuk pada batu yang sama. Kita semestinya tidak jatuh dalam kesalahan-kesalahan berulang semacam ini.
 

(Danial)

Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com

Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com