Penjambret Bakal Ditembak Mati

Penjambret Bakal Ditembak Mati

Semakin Berani, Sadis dan Tak Kapok-kapok

Jakarta, HanTer - Maraknya kejahatan jalanan berupa penjambretan di Jakarta sebulan terakhir ini, seolah menjadi momok bagi warga ibukota. Terlebih, tak hanya perampasan barang berharga, namun tak jarang aksi para penjahat jalanan tersebut berbuntut kekerasan yang menyebabkan luka bahkan kehilangan nyawa terhadap korban. Berbagai kalangan berharap, aksi para oknum penjambret dapat ditindak tegas.

Pengamat Hukum Universitas Al Azhar, Suparji Ahmad, menilai, terdapat beberapa faktor penting yang merupakan penyebab adanya fenomena aksi penjambretan.

"Ini fenomena kejahatan yang semakin berani, penyebabnya kemungkinan. Pertama, karena kondisi ekonomi yang semakin sulit," ujarnya di Jakarta, Kamis (5/7/2018).

Suparji menilai, aksi kejahatan yang menyasar korban hingga menimbulkan korban jiwa sangat disayangkan, dan harusnya tidak boleh terjadi.

Faktor kedua, lanjutnya, terkait kelalaian petugas. "Upaya pengamanan ada kelalaian. Pihak yang memiliki kewenangan masih ada yang lalai," katanya.

Yang ketiga, kata Suparji, penyebab maraknya penjambretan juga disebabkan faktor dari korban sendiri, yang mungkin menampilkan gaya hidup kurang waspada sehingga mengundang aksi tindakan untuk pelaku nekat melakukan kejahatan. "Memakai perhiasan mencolok dan memperlihatkan barang-barang berharga tidak pada tempatnya," ujar dia.

Selain itu, yang keempat, kata dia, rendahnya solidaritas dan kurangnya kepedulian masyarakat juga menjadi faktor tumbuhnya kejahatan. Pemicunya bisa karena kemajuan teknologi seperti telepon selular, sehingga abai pada kondisi sekitar. Faktor yang berperan di sini juga tidak adanya efek jera dari pelaku karena hukuman ringan. 

"Ketika dihukum tidak kapok dan tidak menimbulkan efek jera. Apa yang perlu dilakukan yaitu mengembalikan kepedulian dan acuh tak acuh ketika ada kejahatan terjadi," urainya. 

Menurutnya, kepolisian harus melakukan upaya pencegahan dan memiliki tanggungjawab peduli dengan meningkatkan keamanan masyarakat. 

"Masyarakat harus lebih peduli, kemudian tindakan hukum jangan ada kompromi damai. Setidaknya untuk menimbulkan efek jera. Kemudian aparat juga harus melakukan upaya khusus atau kerjasama bersama warga masyarakat,” pintanya.

Ribuan Personel

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono mengatakan, sejak Selasa (3/7/2018) malam, pihaknya mengadakan operasi kewilayahan mandiri. Operasi tersebut digelar untuk memberantas aksi penjambretan dan pembegalan yang tengah marak terjadi di Jakarta.

"1.000 personel yang dilibatkan dalam operasi kewilayahan ini," ujar Argo di Jakarta, Kamis (5/7/2018).

Argo mengungkapkan, operasi ini akan berlangsung hingga 3 Agustus mendatang. Kapolda Metro Jaya Irjen Idham Aziz, kata Argo, telah memerintahkan jajaranya untuk menindak tegas pelaku kasus begal dan penjambretan.

"Seandainya ada perlawanan (dari pelaku begal dan jambret) perintah Bapak Kapolda kami lakukan tindakan tegas dan terukur (tembak), ini enggak bisa ditawar-tawar," ujar Argo.


Tindak Tegas

Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno ingin pelaku penjambretan yang belakangan ini banyak terjadi ditindak tegas. Terlebih, kata dia, Agustus nanti Jakarta menjadi tuan rumah Asian Games 2018.

"Jangan sampai kita lengah, ini mau masuk Asian Games sehingga nanti tamu-tamu kita (aman). Kita pastikan tidak ada toleransi untuk kegiatan tersebut, harus ditindak tegas," ujar Sandiaga di Balaikota DKI, Jakarta Pusat, 

Dia mengatakan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta siap bekerja sama dengan kepolisian untuk mengatasi masalah ini.

Disisi lain, tindak kriminal masih ada. Penjambretan, kata dia, merupakan dampak dari kondisi ekonomi warga yang belum baik. Dia mengatakan, program OK OCE bisa menjadi salah satu solusi dari masalah itu. "Jadi tidak ada ruang untuk kegiatan yang mengancam kestabilan dan keamanan masyarakat," kata dia.

Aksi penjambretan belakangan marak terjadi di Jakarta. Pada Senin (18/6/2018), Polda Metro Jaya menerima empat laporan mengenai aksi penjambretan di kawasan Sudirman hingga Tosari.

Kasus serupa menimpa Dirjen Bina Konstruksi Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Syarief Burhanudin di kawasan Kota Tua, Jakarta Barat, pada Minggu (24/6/2018).

Dalam kejadian tersebut, polisi mengamankan satu pelaku dan menembak mati satu pelaku lainnya. Dari penangkapan kedua pelaku polisi menemukan adanya sindikat jambret di Jakarta bernama "Jambret Tenda Oranye".

Kemudian, pada hari Sabtu (30/6/2018), seorang pria bernama Robertus Soutwell Bougie Hartono di Kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan, menjadi korban pembegalan. Beruntung polisi telah menangkap pelakunya.

Teranyar pada Minggu (1/7/2018), seorang wanita berinisial W (37) meninggal dunia akibat mempertahankan barangnya dalam aksi penjambretan di kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat. 

(Harian Terbit/Sammy)

Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com

Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com