Mentan Siap Proses Hukum yang Memainkan Bantuan Korban Banjir Wajo

Mentan Siap Proses Hukum yang Memainkan Bantuan Korban Banjir Wajo


Wajo, HanTer - Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman meminta agar jangan main - main atau menyelewengkan sejumlah bantuan untuk petani korban banjir di Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan (Sulsel). Amran mengaku siap memproses secara hukum jika ada pihak yang memainkan bantuan yang diberikan kepada petani yang merupakan soko guru ekonomi Indonesia.
 
"Di sini kami siapkan posko untuk memantau (pembagian bantuan). Satuannya ada Kapolres, Dandim sehingga kalau ada yang coba memainkan ini akan kami proses," tegas Amran usai memberikan bantuan berupa bibit, pupuk, asuransi dan peralatan berupa traktor, ekskavator, pompa di Kelurahan Macero, Kecamatan Belawa, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan (Sulsel), Senin (9/7/2018). 
 
Menurut Amran, saat ini pihaknya sudah sangat tegas terhadap pihak - pihak yang merugikan petani. Contohnya saat ini ada 400 dari 700 mafia pangan yang telah diproses hukum dan menjadi tersangka. Oleh karena itu siapapun jangan main - main terhadap ekonomi rakyat kecil. Bahkan Amran mengaku siap berhadapan dengan mafia yang memainkan petani atau rakyat kecil. Saat ini bantuan korban banjir dipantau oleh Kasdam XIV Hasanudin Brigjen Budi.
 
"Kalau kamu sakiti, maka berhadapan dengan saya. Jadi kami yakin tidak ada main-main. Tidak ada kompromi," tegasnya. 
 
Untuk mengatasi korban banjir di Kabuoaten Wajo yang hampir setiap tahun melanda, sambung Amran, maka pihaknya akan berkoordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk mengetahui bagiamana solusi ke depannya. Apalagi Presiden Joko Widodo (Widodo) selalu meminta laporan terkait perkembangan banjir di Kabupaten Wajo.
 
"Kami koordinasi dengan PUPR. Kami lihat seperti apa solusi ke depannya. Kami bersama Menteri PUPR akan cari solusi permanen,," paparnya.
 
Lebih lanjut Amran mengatakan, banjir yang terjadi di Kabuoaten Wajo satu sisi menjadi berkah. Apalagi banjir di Kabupaten Wajo merupakan anomali cuaca. Karena daerah-daerah upland (daratan tinggi) pasti berhasil dalam hal panennya sehingga akan membawa berkah. Sementara  daerah daerah rendah (low land) terkena dampak banjir sehingga harus dibantu. 
 
"Anomali ini juga berkah meski di sisi lain ada yang kena banjir. Karena dua tiga produktivitas pasti naik bagi daerah yang tidak kena banjir," jelasnya.
 
Banjir akibat luapan Danau Tempe di Kabuoaten Wajo merupakan yang terparah sejak 10 tahun terakhir hingga membuat kerugian berkisar Rp190 miliar. Setidaknya ada 7.591 hektare di Kabupaten Wajo yang terkena luapan banjir. Akibat banjir membuat padi yang puso mencapai 45.458.400 kg jika dikalikan Rp4.200/kg maka total kerugian mencapai Rp190.925.280.000.
 
Adapun banjir di Kabupaten Wajo terjadi di 8 kecamatan yakni Belawa sekitar 3.785 hektare lahan yang terendam banjir. Kecamatan  Tempe 196 hektare, Kecamatan Tanasitolo 464 hektare, Kecamatan Maningapano 318 hektare, Kecamatan Sabbangparu 826 hektare, Kecamatan Pammana 305 hektare, Kecamatan Majauleng 1.223, dan Kecamatan Bola 473 hektare. 
 

(Safari)

Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com

Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com