Tajuk: Mencegah Perang Dagang AS-Indonesia

Tajuk: Mencegah Perang Dagang AS-Indonesia


Setelah Amerika Serikat (AS) versus China, kini ancaman perang dagang AS juga merembet ke Indonesia.  Presiden Donald Trump menyoroti Indonesia.  Peringatan telah disampaikan. Pemerintah AS mengancam bakal mengenakan tarif ke-124 pada produk asal Indonesia menyusul defisit yang terjadi pada AS dalam hubungan dagang dengan Indonesia.
 
Memang, jumlah ekspor ke AS lebih tinggi dibanding jumlah ekspor AS ke Indonesia. Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita telah mengambil beberapa langkah taktis. Ternyata ada perbedaan angka, karena cara menghitung tak sama. Defisit AS dan surplus Indonesia, tak sama cara melihatnya. 
 
Enggar meyakini bahwa berdasarkan hitungan yang dilakukannya surplus, Indonesia bukan berasal dari daftar bea masuk untuk dikenakan.
 
Meski demikian, Enggar menegaskan, Pemerintah Indonesia tak segan mengambil tindakan jika Trump tetap dengan ancamannya. Opsi perang dagang bisa saja akan dipilih, manakala langkah diplomasi gagal. Langkah serupa pernah dilakukan saat Eropa menolak CPO dari Indonesia. Saat itu barang dari sana, diancam akan dicegah masuk Indonesia.
 
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan, pemerintah menilai ancaman perang dagang  AS itu  tidak menjadi ancaman serius bagi perekonomian nasional.
 
Pengamat Perdagangan Internasional dari Universitas Indonesia Fithra Faisal menilai perang dagang  antara AS dan Cina dapat memberi keuntungan serta ancaman bagi Indonesia. Menurut Fithra, penetapan tarif terhadap produk-produk Cina oleh AS memungkinkan Cina akan mengalihkan pasarnya ke negara lain. Salah satunya adalah pasar di ASEAN, dan yang terbesar adalah di Indonesia.
 
Perang dagang merembet ke mana-mana. Setelah Amerika Serikat (AS) versus China, kini ancaman perang dagang AS juga merembet ke Indonesia. 
 
Pengamat hubungan internasional dari Universitas Indonesia (UI) Hikmahanto Juwana menyarankan pemerintah perlu bersikap meminta Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization/WTO) turun tangan.
 
Situasi ini membuat peran WTO diuji. Bila tak mampu meredam perang dagang ini, WTO dinilai bakal kehilangan perannya. WTO perlu didorong untuk mengadakan pertemuan darurat guna membahas perang dagang ini. Harapan kita agar dilakukan berbagai upaya sehingga  perang dagang tidak berlarut-larut. 
 
Negara-negara yang layak dilobi adalah negara-negara berkembang. Negara-negara berkembang ini yang nantinya bisa berkoalisi dengan negara Eropa, termasuk Rusia dan Uni Eropa. Jika perang dagang terus berlanjut tentu akan merugikan kedua Negara.
 
Kita mendukung upaya pemerintahan Joko Widodo yang sudah mengirimkan tim negosiasi guna menanggapi ancaman perang dagang dari Donald Trump.  Biar bagaimanapun, ancaman dagang AS akan berdampak bagi perekonomian Indonesia. Jika ini terjadi tentu bisa menciptakan pengangguran.
 
Tantangan utama kita adalah bagaimana caranya agar barang-barang kita bisa merebut pasar Amerika. Dengan demikian bisa memberikan sumbangan pendapatan bagi Negara. Itulah sebabnya, selain Kedutaan Besar RI untuk mempromosikan produk Indonesia ke AS, namun semua representasi Indonesia harus memasarkan Indonesia. 
 
Meski demikian, perang dagang Indonesia dan AS harus dihindari. Bagaimanapun kepentingan dua negara saling terkait. Diharapkan tim lobi bisa meyakinkan AS, walau harus bersiap juga, dengan segala kemungkinan yang ada.

(***)

Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com

Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com