Ancaman Perang Dagang Amerika Sentilan ke Jokowi

Ancaman Perang Dagang Amerika Sentilan ke Jokowi


Jakarta, HanTer - Setelah Amerika Serikat (AS) versus China, kini ancaman perang dagang AS juga merembet ke Indonesia.  Presiden Donald Trump mengancam bakal mengenakan tarif ke-124 pada produk asal Indonesia menyusul defisit yang terjadi pada AS dalam hubungan dagang dengan Indonesia. Ancaman itu dinilai sentilan kepada Joko Widodo untuk menjalankan pemerintahan sesuai Nawacita dan Trisakti dalam waktu yang tersisa pemerintahan. 
 
Direktur Eksekutif Center Budget Analysis (CBA) Uchok Skya Khadafi, mengatakan ancaman perang dagang Amerika tersebut sebagai sentilan kepada Jokowi agar menjalankan pemerintahan sesuai Nawacita dan membersihkan ekonom ultra neoliberal yang sibuk memotong subsidi terhadap ekonomi.
 
“Kondisi ini hendaknya menjadi peringatan bagi pemerintah. Menurutnya, kejelian pemerintah dalam mempertimbangkan isu trade war sebagai salah satu risiko global yang harus diantisipasi. Agar nantinya tidak berdampak secara signifikan terhadap ekonomi dalam negeri," katanya di Jakarta, Rabu (11/7/2018).
 
Rupiah Anjlok
 
Peneliti Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) Salamuddin Daeng mengatakan, adanya ancaman perang dagang yang dilakukan Amerika terhadap Indonesia akan membuat ambruk nilai rupiah terhadap dolar. Akibatnya nasib Joko Widodo (Jokowi) akan masuk dalam kubangan kebijakan ultra neoliberal. Apalagi saat ini ekonomi Indonesia defisit dalam semua lini. 
 
Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), sejak tahun 2015 sampai dengan akhir tahun 2017 keadaan neraca eksternal Indonesia (dihitung berdasarkan kurs Rp 14.000 /USD mengalami defisit neraca transkasi berjalan secara akumulatif senilai Rp. 727,9 triliun. Sehingga jika ditambah defisit kuartal pertama  2018 maka defisitmya mencapai Rp.805,5 triliun.
 
Lebih lanjut Salamuddin mengatakan, perdagangan migas secara akumulatif juga mengalami defisit mencapai Rp.249,5 triliun. Jika ditambah defisit kuartal pertama 2018 maka nilai defisit mencapai Rp.282,6 triliun. Defisit juga terjadi dalam transkasi jasa jasa secara akumulatif mencapai Rp. 330,5 triliun. Jika ditambah defisit kuartal pertama 2018 maka nilai defisit mencapai Rp.350,5 triliun.
 
Selain itu juga terjadi defisit pendapatan primer secara akumulatif mencapai Rp. 1.274,1 triliun. Jika ditambah defisit pada kuartal pertama  2018 maka nilai defisit mencapai Rp. 1.384,5 triliun. Terjadi juga defisit perdagangan sepanjang tahun 2018 senilai Rp. 40,5 triliun (data Kementerian Perdagangan)  dan akan terus berlanjut.
 
Adapun ambruknya nilai rupiah dari luar adalah terjadi perang dagang oleh ekonomi utama yakni Amerika Serikat terhadap pesaing utama mereka khususnya China. Selain itu, Ingris telah keluar dari Uni Eropa. Ini berarti rezim perdagangan bebas dan sistem ekonomi politik neoliberal sudah tamat.
 
Amerika Serikat dibawah Donald Trump mengambil segala langkah di bidang investasi, perdagangan dan keuangan dalam rangka melindungi ekonomi nasional AS.
 
"Amerika Serikat melancarkan perang tarif terhadap China, juga terhadap negara negara lain seperti Korea termasuk terhadap Indonesia," paparnya.
 
Selama ini, sambung Salamuddin,  Amerika Serikat telah melakukan berbagai langkah menarik investasi swasta yang ada di luar negeri agar kembali ke Amerika khususnya investasi di China. Untuk mewujudkannya maka Amerika serikat melancarkan strategi meningkatkan suku bunga dalam rangka memperoleh tingkat keseimbangan mata uang bagi kebangkitan ekonomi dan industri AS.
 
Neoliberal
 
Lebih lanjut Salamuddin mengatakan, ambruknya nilai rupiah juga disebabkan politik dari dalam Pemerintahan Jokowi yang kebanyakan diisi oleh para ekonom ultra neoliberal. Mereka sibuk memotong subsidi. Sementara AS dan China terus memperkuat subsidi terhadap ekonomi mereka guna menghadapi perang dagang.
 
Para pejabat negara ultra neoliberal mengambil kebijakan menaikkan harga energi khususnya BBM dan listrik yang berdampak pada melemahnya daya beli masyarakat. Sementara negara lain berfikir bagaimana membuat energi murah agar industri nasional mereka bisa bersaing. 
 
Para menteri ultra neoliberal juga membuat jebakan pada pemerintah dengan memasukan uang panas melalui program tax amnesty. Indonesia menjadi tempat cuci uang dari berbagai kejahatan pajak internasional.  "Program tax amnesty juga gagal total memperbaiki penerimaan pajak," paparnya.
 
Salamuddin menilai, orang - orang yang berpandangan ultra neoliberal dalam kabinet Jokowi terus secara leluasa membawa negara pada ketergantungan barang impor, dan menyandarkan APBN pada utang luar negeri dan pasar keuangan dan menjual BUMN sebagai agunan utang.Dalam tahun politik kabinet pemerintahan Jokowi mulai sibuk dengan urusan masing masing, partai masing masing. Otomatis program dan proyek strategis nasional akan terabaikan dan rawan korupsi.
 
Pengamat Ekonomi Lingkar Studi Perjuangan Gede Sandra mengatakan, Amerika Serikat belum secara resmi menyatakan perang terhadap produk-produk asal Indonesia. Apalagi Indonesia juga bukan ancaman terberat Amerika. Namun pada dasarnya yang dilakukan Amerika terhadap Indonesia adalah untuk melindungi industri dan pekerja mereka sebagaimana untuk menuaikan janji kampanye Donald Trump.
 
"Sebenarnya masalah utama AS adalah dengan China. Selama ini jumlah perdagangan Indonesia defisit terhadap China," kata Gede Sandra kepada Harian Terbit, Rabu (11/7/2018).
 
Gede menuturkan, walaupun ancaman perang dagang Amerika terhadap Indonesia tidak berpengaruh besar. Tapi bila dikenakan tarif kepada produk-produk maka akan menekan neraca perdagangan Indonesia yang sudah defisit USD 1,51miliar pada bulan Mei 2018 lalu. Apalagi AS adalah negeri tujuan ekspor terbesar setelah China, bagi Indonesia.

(Safari/Sammy)

Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com

Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com