Perang Dagang AS, RR: Peluang Ekspor Bagi Indonesia

Perang Dagang AS, RR: Peluang Ekspor Bagi Indonesia


Jakarta, HanTer - Mantan Menteri Koordinator Kemaritiman, Rizal Ramli, mengatakan, perang dagang antara China dan Amerika berpeluang besar bagi pasar ekspor Indonesia. Rizal menyayangkan kreativitas sumber daya manusia (SDM) RI dalam melihat peluang yang masih terbilang minim.
 
"Barang China kena tarif, Amerika juga kena tarif, artinya kan lebih mahal. Jadi kalau kita memang canggih, ini merupakan kesempatan untuk ekspansi pasar Indonesia atau ekspor kita, sayangnya kreativitas ini tidak dimiliki," katanya usai diskusi yang diadakan di Sekretariat Bersama 'the Kemuning', Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (11/7/2018).
 
Rizal menambahkan, pemimpin negara seharusnya bisa mengubah perang dagang menjadi suatu kesempatan.
 
"Bukan sebaliknya, malah krisis bagi negara. Pemimpin yang hebat itu mampu ubah krisis jadi kesempatan. Mereka mampu membalikkan krisis dengan penuh optimisme," ungkapnya.
 
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) kubu Eddy Ganefo mengatakan Indonesia tak perlu khawatir akan dampak perang dagang. Sebaliknya, Eddy menekankan pemerintah harus perkuat produk dalam negeri.
 
"Kita tidak perlu khawatir sama perang dagang ini. Tapi bagaimana kita perkuat produk-produk kita supaya punya nilai tambah," ujarnya.
 
Eddy menilai bahwa produk RI mempunyai kualitas yang tak kalah saing dengan produk-produk asing. "Kita selalu ditakut-takutin supaya produk kita tampaknya level gradenya di bawah, padahal tidak demikian. Kita harus cerdas liat prospek, buat produk kita punya daya jual dan daya saing di luar negeri," tandasnya.
 
Sementara itu, pengamat politik Cecep Handoko mengatakan, Indonesia negara yang paling siap dengan gejolak ekonomi global. Termasuk jika Amerika Serikat melancarkan perang dagang dengan Indonesia. Walaupun siap menghadapi gejolak ekonomi global. Namun jika Amerika melancarkan perang dagang tentu akan berdampak tapi tidak signifikan terhadap Indonesia.
 
"Apalagi posisi AS sekarang tidak lagi sebagai penguasa tunggal ekonomi dunia karena masih ada China dan Rusia," paparnya.

(Sammy)

Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com

Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com