Tajuk: Narkoba Jadi Instrumen `‘Proxy War`

Tajuk: Narkoba Jadi Instrumen `‘Proxy War`


Indonesia saat ini menjadi salah satu pasar narkoba internasional. Pelaku kejahatan ini pun sangat berani mengambil risiko demi keuntungan yang besar. Buktinya kasus penyelundupan narkotika dan obat terlarang di Indonesia terus meningkat setiap tahun. 
 
Selain kejahatan luar biasa (extraordinary crime), narkotika sudah mengancam dunia dan bisa digunakan sebagai salah satu senjata dalam Proxy War untuk melumpuhkan kekuatan bangsa. Karenanya kejahatan ini harus diberantas dan ditangani secara komprehensif. 
 
Saat ini Indonesia merupakan negara yang menjadi salah satu sasaran terbesar peredaran gelap narkotika. Termasuk, pembuatan prekursor alias bahan kimia narkotika yang dikendalikan jaringan nasional atau internasional. Sudah sewajarnya jika pemerintah Indonesia mengambil langkah tegas dalam menghadapi bentuk perang modern tersebut.
 
Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan Wiranto menegaskan bahwa ancaman terhadap bahaya narkotika bisa menjadi instrumen untuk proxy war atau perang baru yang modern. Karena lebih murah, tidak kentara, dan tidak dikecam oleh dunia internasional tapi korbannya sungguh sangat mencemaskan.
 
Menurutnya, bahaya narkoba ini bukan di depan mata tapi sudah kita alami sekarang, kita sedang perang dengan itu. Hasil tangkapan-tangkapan itu tidak lagi berbunyi 10 gram, 100 gram tapi bunyinya ton. Padahal satu gram saja sudah bisa membuat teler 5 orang, nah kalau ton berapa juta orang bisa yang teler karena itu.
 
Berdasarkan laporan yang diterima, setiap hari ada 30 anak muda meninggal karena narkoba. Jika dihitung maka sebulan ada 900 orang yang meninggal karena narkoba.
 
Kita mengajak seluruh komponen masyarakat untuk ikut mendukung program operasionalisasi dari BNN yang sudah mencanangkan program melawan ancaman narkoba dengan cara-cara yang lebih kuat, simultan, dan total. 
 
BNN agar tidak henti-hentinya dan tanpa lelah mencoba koordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan yang ada hubungannya dengan ancaman narkoba.
 
Kita menginginkan seluruh lapisan masyarakat dapat mewaspadai bahaya narkoba yang sengaja disusupkan oleh berbagai pihak yang dinilai ingin merusak persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. 
 
Publik berharap pemerintahan Jokowi bisa bersikap tegas lagi terhadap pelaku kejahatan narkoba. Kalau sampai saat ini terkesan ‘adem-adem’ saja, maka mulai sekarang bersikap dan lakukan tindakan tegas, setidaknya berikan hukuman yang berat terhadap mereka, hukuman mati seperti di negara lain.  
 
Juga harus tegas terhadap oknum aparat negara dan oknum pejabat yang terlibat dengan bandar narkoba. Sudah seharusnya hukuman yang diberikan kepada oknum aparat Negara yang terlibat narkoba harus lebih berat.
 
Negara ini harus diselamatkan dari kehancuran akibat narkoba. Karenanya pemerintahan Presiden Jokowi harus tegas dan serius mengatasi persoalan maraknya peredaran narkoba di tanah air. Perlu kebijakan yang jelas dan tindakan tegas terhadap para penjahat narkoba, sehingga negeri ini tidak lagi  darurat narkoba. 
 
Meski  masih pro kontra, sebagian anggota masyarakat juga ada yang menginginkan  Presiden Jokowi meniru sikap tegas Presiden Filipina untuk menembak mati penjahat narkoba di tempat. Alasannya, penjahat narkoba itu sudah ‘membunuh’ banyak generasi muda Indonesia termasuk anak-anak bangsa calon pemimpin negeri ini.

(***)

Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com

Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com