Korban Penipuan Jual Beli Online Berjatuhan

Korban Penipuan Jual Beli Online Berjatuhan

14.000 Laporan Diterima Kominfo

Jakarta, HanTer -- Perkembangan teknologi saat ini turut mendorong masyarakat menikmati kemudahan berbelanja secara online. Namun, melakukan transaksi secara online juga mempunyai risiko, terutama ketika melakukan transaksi pembayaran. Bahkan, Kementerian Komunikasi dan Informasi mencatat sekitar 14.000 laporan masuk terkait adanya penipuan jual-beli tersebut.

Adapun tak sedikit konsumen yang tertipu oleh oknum penjual dalam kasus jual-beli online. Mayoritas pengakuan masyarakat yang tertipu yakni mereka telah membayarkan sejumlah uang, namun nyatanya barang tak dikirim, bahkan penjual langsung menghilang.

Pengamat Komunikasi Digital Marketing, Chrisma Wibowo, mengatakan, siapapun dalam dunia digital dapat menjadi korban kriminalisasi. Kriminalisasi, kata dia, tidak hanya berupa penipuan, tapi juga berbagai kejahatan lainnya.

Modus penipuan melalui media digital tidak hanya terjadi di dalam negeri, tapi juga di luar negeri. Modelnya pun, kata dia, hampir seragam. "Untuk itulah, selalu waspada. Perbanyak baca dan referensi jual-beli. Jangan asal klik pada tautan yang muncul," ujarnya di Jakarta, Rabu (12/9/2018).

Ia menyarankan, calon pembeli online sebaiknya jangan mudah terpancing serta larut dalam tawaran-tawaran yang menarik. Ada baiknya, kata dia, pembeli mengkroscek produsen penjual tersebut ataupun berbagai informasi si penjual. "Pastikan untuk mencari sumber yang jelas dalam setiap konten yang ada," terang dia.

Untuk diketahui, akibat maraknya kasus penipuan belanja online, Kemenkominfo membuat sebuah situs yang dapat digunakan untuk memeriksa suatu nomor rekening. Situs tersebut dinamai Cek Rekening ID yang dapat diakses oleh masyarakat luas di situs cekrekening.id.

Hasilnya, Kemenkominfo mencatat sekitar 16.678 laporan yang masuk ke situs tersebut. "Data per hari ini, 11 September 2018," kata Pelaksana Tugas Kepala Biro Humas Kementerian Kominfo Ferdinandus Setu, di Jakarta.

Dari seluruh laporan yang masuk tersebut, hampir 14.000 di antaranya merupakan tindak kejahatan berupa penipuan transaksi online. Sedangkan, sisanya adalah kasus penipuan investasi, pemerasan, prostitusi online, dan kejahatan lain seperti undian palsu, penyuapan, dan korupsi.

Ia mengimbau, sebelum melakukan transaksi pembayaran, dapat mengecek rekening tujuan, apakah rekening tersebut pernah terlibat tindak penipuan atau belum. Calon pembeli hanya perlu masuk ke laman Cek Rekening ID, kemudian memasukkan nama bank dan nomor rekening. Hasil rekam jejak rekening akan muncul di dalamnya. Jika muncul rekam jejak nomor rekening tersebut pernah dilaporkan, maka calin pembeli patut waspada.

Bervariasi

Sementara itu, pengamat kebijakan publik, Sudarsono Hadisiswoyo mengatakan di era teknologi informasi saat ini telah terbuka sebuah dunia baru dan cara berinteraksi baru yaitu sebuah market place serta sebuah jaringan bisnis dunia tanpa batas.

"Tanpa kita sadari bahwa perkembangan teknologi baru yang disebut internet, telah mengubah masyarakat dalam pola berinteraksi," ujar Sudarsono kepada Harian Terbit, Rabu (12/9/2018).

Menurutnya,  belakangan ini banyak sekali kasus-kasus penipuan secara online. Bisnis secara online memang mempermudah para pelaku penipuan dalam melakukan aksinya, karena mereka tidak bertemu secara langsung dengan pembelinya. Dan modus yang dilakukan para pelaku untuk melakukan tindak kejahatan penipuan pun amat bervariasi dan tergolong baru.

"Disinilah pentingnya sebuah sinergi terkait serta sosialisasi ke masyarakat akan bahayanya penipuan secara online. Masyarakat juga perlu dihimbau agar tak mudah percaya dengan sebuah promo menjanjikan yang di luar dari kerasionalan dan kewajaran," ungkap Sudarsono.

Kemudian dalam hal ini, Sudarsono menambahkan perlunya upaya gerak cepat dan sinergitas antara aparat penegak hukum beserta Kementeriaan Komunikasi dan Informatika untuk menanggulangi bahaya penipuan ini. "Apalagi sudah sedemikian banyak laporan yang masuk," pungkas Sudarsono. 

(Harian Terbit/Sammy/Danial)

Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com

Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com